Zuhud.

*DIANTARA MAKNA ZUHUD, TIDAK MENGINGINKAN PUJIAN DARI ORANG LAIN*

‏قال الإمام الأوزاعي -رحمه الله- :

الزهد في الدنيا ترك المحمدة ، تعمل العمل لا تريد أن يحمدك الناس عليه.

📚مصنف ابن أبي شيبة ( 7 / 241 )

*Al-Imam Al-Auza’i* rohimahulloh pernah berkata :

_”Zuhud terhadap perkara dunia itu adalah *meninggalkan pujian*, (yakni) kamu melakukan suatu amalan yang tidak menginginkan pujian dari orang lain atas amalan tersebut.”_

( *Mushonnaf Ibnu Abi Syaibah,* 7/241)

*Catatan :*

1. Zuhud itu adalah “amalan hati”, bukan sekedar amalan anggota badan (fisik).

Sebagaimana kata *Abu Sulaiman* rohimahulloh :

لَا تَشْهَدْ لِأَحَدٍ بِالزُّهْدِ، فَإِنَّ الزُّهْدَ فِي الْقَلْبِ

_“Janganlah engkau mempersaksikan bahwa seorang itu telah berlaku zuhud (secara lahiriah/fisiknya saja), karena zuhud itu letaknya adalah di hati.”_

Dan makna atau pengertian Zuhud itu sendiri, tidak lepas dari tiga makna, sebagaimana dijelaskan oleh *Al-Imam Al-Hafidz Ibnu Rojab Al-Hambali* rohimahulloh, yaitu :

a. Zuhud itu adalah : seorang hamba lebih *meyakini rejeki yang ada di tangan Alloh,* daripada apa yang ada di tangannya sendiri.

Hal ini tumbuh/muncul dikarenakan bersihnya dan kuatnya keyakinan terhadap Alloh, karena sesungguhnya Alloh telah menanggung dan menentukan jatah rejeki setiap hamba-Nya…..

b. Zuhud itu adalah :g apabila hamba tertimpa musibah di dunia ini, berupa hilangnya harta, anak atau yang lainnya, *dia lebih senang memperoleh PAHALA* atas hilangnya hal-hal tersebut di atas, daripada hal itu tetap ada padanya.

Hal ini pun juga muncul karena sempurnanya keyakinannya kepada Alloh….

c. Zuhud itu adalah : seorang hamba *memandang sama, antara pujian dan celaan yang diberikan oleh orang lain kepadanya,* ketika dia berada di atas kebenaran.

(Dengan kata lain, dia tidak peduli dengan pujian dan sanjungan orang lain kepadanya, atau celaan dan cacian yang ditujukan kepadanya. Yang penting dia terus beramal, dan tetap kokoh di atas Al-Haq)

Itulah diantara makna-makna Zuhud, sebagaimana dijelaskan secara luas oleh *Al-Imam Al-Hafidz Ibnu Rojab Al-Hambali* rohimahulloh dalam kitab beliau, *Jami’ul ‘Ulum wal Hikam*, hal. 644 – 646.

2. Jadi, apa yang dinyatakan oleh *Al-Imam Al-Auza’i* rohimahulloh di atas, termasuk dalam pengertian Zuhud.

Yakni, seorang hamba memandang sama, antara pujian dan celaan yang ditujukan kepadanya, selama dia tetap berada di atas Al-Haq.

Dia terus beramal, meski dipuji atau dicela. Dia tidak gila pujian dan sanjungan….dia juga tidak lemah dalam beramal, meskipun dia banyak dicela orang….

Hal ini merupakan tanda bahwa dirinya zuhud terhadap dunia, dan menganggap dunia itu sebagai sesuatu yang remeh, dan menunjukkan pula minimnya kecintaan dirinya kepada dunia tersebut….

_Padahal, biasanya setiap orang yang mengagungkan dunia, dia akan cinta kepada pujian, dan benci pada celaan._

_Terkadang hal itu akan menggiring dirinya untuk tidak mengamalkan kebenaran karena takut celaan, atau justru melakukan berbagai kebatilan karena ingin mendapatkan pujian…._

Jadi…., setiap orang yang memandang sama antara pujian dan celaan yang diberikan kepadanya, selama dirinya berada di atas kebenaran…. Itulah Zuhud….

Hal itu juga menunjukkan, bahwa jabatan/kedudukan yang dimiliki manusia, tidaklah berpengaruh di dalam hatinya.

Dan juga menunjukkan, bahwa hati orang seperti itu telah dipenuhi oleh rasa cinta akan kebenaran, serta ridho kepada Alloh.

Hal ini adalah seperti yang dikatakan oleh *Ibnu Mas’ud* rodhiyallohu anhu :

الْيَقِينُ أَنْ لَا تُرْضِيَ النَّاسَ بِسُخْطِ اللَّهِ

_”Yakin itu : adalah engkau tidak mencari ridho manusia dengan cara menimbulkan kemurkaan Alloh._

_Dan sungguh, Alloh telah memuji mereka yang telah berjuang di jalan-Nya dan yang tidak takut terhadap celaan.”_

_Wallohu a’lamu bis showab….._

(lihat : *Jami’ul ‘Ulum wal Hikam* hal. 644-646, secara ringkas)

Semoga nasehat yang ringkas di atas, bermanfaat untuk kita semuanya….

_Allohu yubaarik fiikum….._

Semoga bermanfaat bagi kita semua… 🤲🤲🤲

Leave a Comment